Beranda | Artikel
10 Pelajaran dari Datangnya Jibril
Kamis, 4 Mei 2017

Pertemuan yang Istimewa

Datangnya malaikat yang paling mulia, menemui Nabi yang paling mulia disaksikan para sahabat yang mulia tentulah merupakan hal yang istimewa. Pastinya banyak sekali faidah yang ada di sana. Kali ini kita akan mengambil beberapa faidah tentang ilmu dari kisah tersebut.

Diriwayatkan oleh Imam Muslim, dari sahabat ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu, beliau mengisahkan,

بينما نحن جلوس عند النبي صلى الله عليه وسلم إذ طلع علينا رجل شديد بياض الثياب، شديد سواد الشعر، لا يُرى عليه أثر السفر، ولا يعرفه منّا أحد، فجلس إلى النبي صلى الله عليه وسلم فأسند ركبتيه إلى ركبتيه، ووضع كفيه على فخذيه

Ketika kami tengah berada di majelis bersama Rasulullah pada suatu hari, tiba-tiba muncul dihadapan kami seorang laki-laki yang berpakaian sangat putih, berambut sangat hitam, tidak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan jauh dan tidak seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Lalu ia duduk di hadapan Rasulullah dan menyandarkan lututnya pada lutut Rasulullah dan meletakkan tangannya di atas pahanya sendiri” (H.R Muslim).

Selanjutnta Jibril bertanya kepada Nabi tentang makna islam, iman, dan ihsan serta perkara tentang hari akhir dan dijawab oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Mendulang Faidah dari Sebuah Kisah

Dalam kisah datangnya Jibril ini kita bisa mengambil beberapa faidah tentang ilmu :

1. Anjuran untuk aktif menghadiri majelis ilmu.

Tatkala Jibril ‘alaihis salam datang, para sahabat sedang duduk bermajelis bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikianlah kebiasaan para sahabat. Mereka datang kepada Nabi untuk mendapatkan ilmu dan meminta nasihat kepada beliau. Mereka adalah orang yang semangat untuk mencari ilmu. Hendaknya kita bisa mengambil pelajaran dari kisah ini, dan menjadi motivasi bagi kita untuk aktif mendatangi majelis ilmu. Seseorang tidak akan bisa mendapat ilmu jika tidak datang menghadiri majelis ilmu, sebagaimana perkataan Imam Malik rahimahullah,

العلم يؤتى ولا يأتي

Ilmu itu didatangi, dia tidak akan datang sendiri.

2. Anjuran bagi para dai untuk aktif mengajarkan ilmu.

Datangnya Jibril ‘alaihis salam tujuannya adalah untuk mengajarkan ilmu kepada para sahabat. Kedatangan beliau bukan karena diminta oleh Nabi dan para sahabat. Demikianlah semestinya seorang dai dan juru dakwah, adakalanya dia harus aktif dan punya inisiatif sendiri untuk mengajarkan ilmu tanpa harus diminta oleh muridnya atau harus menunggu diundang oleh panitia pengajian.

 3. Memakai pakaian yang bagus saat menghadiri majelis ilmu.

Jibril ‘alaihis salam datang menggunakan pakaian yang sangat putih, yang menunjukkan pakaian yang beliau pakai adalah pakaian yang bersih dan bagus. Baju putih juga adalah warna yang disukai oleh Rasul shalllahu ‘alaihi wa sallam . Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْبَسُوا مِنْ ثِيَابِكُمُ الْبَيَاضَ فَإِنَّهَا مِنْ خَيْرِ ثِيَابِكُمْ

Pakailah oleh kalian pakaian yang putih karena itu termasuk pakaian yang paling baik” (HR. Abu Daud 4061, hasan).

Oleh karena itu, seyogyanya bagi penuntut ilmu untuk berhias diri dengan pakaian dan penampilan yang baik tatkala akan menghadiri majelis ilmu.

4. Hendaknya murid mengambil posisi yang dekat dengan guru.

Dalam kisah tersebut diceritakan,

فجلس إلى النبي صلى الله عليه وسلم فأسند ركبتيه إلى ركبتيه

“Lalu ia duduk di hadapan Rasulullah dan menyandarkan lututnya pada lutut Rasulullah”

Jibril menempelkan lutut beliau dengan lutut Nabi. Ini menunjukkan beliau mengambil posisi duduk yamg sangat dekat dan juga menghadap kepada Nabi yang akan menyampaikan ilmu. Dengan posisi demikian beliau bisa menyimak dengan seksama ilmu yang disampaikan dan mendapat faidah yang lengkap. Inilah di antara adab dalam menuntut ilmu, yaitu mengambil posisi yang dekat dengan guru yang akan mengajarkan ilmu.

5. Fokus dan konsentrasi dalam belajar.

Dalam kisah tersebut diceritakan,

ووضع كفيه على فخذيه

“dan beliau (Jibril) meletakkan tangannya di atas pahanya sendiri”

Tatkala duduk, Jibiril meletakkan kedua tangannya di atas paha beliau sendiri. Ini menunjukkan sikap duduk yang sempurna dan posisi yang fokus dalam mempelajari ilmu. Demikianlah seharusnya duduknya penutut ilmu di majelis ilmu. Mengambil posisi duduk yang benar dan sikap yang fokus memperhatikan guru. Tidak duduk asal-asalan, sibuk ngobrol  sendiri, mengantuk dan tidur, atau bahkan bermain HP saat di majelis ilmu.

6. Metode tanya jawab dalam mengajarkan ilmu.

Cara seperti ini adalah di antara metode yang efektif dalam belajar, yaitu berdialog atau tanya jawab sehingga baik yang mengajarkan maupun yang diberi pelajaran sama-sama aktif dalam proses pembelajaran. Hal ini akan mudah dipahami dan juga mudah untuk diingat. Metode seperti ini banyak dipraktikkan oleh Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana disebutkan dalam banyak hadits.

7. Boleh bertanya tentang sesuatu yang sudah diketahui dalam rangka mengajarkan ilmu kepada orang lain.

Jibril bertanya kepada Nabi bukan berarti beliau tidak tahu. Akan tetapi ini dalam rangka pengajaran kepada para sahabat yang hadir pada saat itu. Dengan sebab pertanyaan Jibril, Nabi memberikan banyak penjelasan ilmu tentang islam, iman, ihsan, tanda hari kiamat, dll, sehingga para sahabat yang hadir mendapatkan tambahan ilmu.

8. Anjuran mengucapkan salam ketika menghadiri majelis ilmu.

Dalam riwayat yang lain, disebutkan bahwa Jibril mengucap salam kepada Nabi ketika beliau memasuki majelis. Jibril mengucapkan, “Assalaamu ‘alaika Yaa Muhammad”, dan Nabi pun menjawab salam tersebut, sebagaimana hal ini disebutkan dalam hadits Abu Hurairah dan Abu Dzar yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud.

9. Tidak boleh menjawab pertanyaan tanpa dasar ilmu.

Tidak boleh seseorang menjawab pertanyaan tanpa dasar ilmu. Oeh karena itu jawaban Nabi ketika ditanya tentang kapan  terjadinya hari kiamat,

. ما المسؤول عنها بأعلم من السائل

“Orang yang ditanya itu tidak lebih tahu dari yang bertanya.”

Beliau menjawab demikian karena memang beliau tidak mengetahui ilmu tentang hal tersebut.

10. Keutamaan dan pentingnya mempelajari dan mendakwahkan aqidah.

Datangnya Jibril kepada Nabi dan disaksikan oleh para sahabat adalah suatu momen yang langka dan istimewa. Ilmu yang diajarkan dalam majelis tersebut adalah ilmu tentang pokok-pokok agama Islam yaitu tentang islam, iman, ihsan, dan juga tanda hari kiamat. Ini menunjukkan pengajaran tentang ilmu tersebut adalah sangat penting dan sangat dibutuhkan oleh umat. Oleh karena itu para da‘i hendaknya menjadikan aqidah sebagai materi utama dalam dakwah.

Demikian beberapa faidah tentang ilmu yang bisa kita petik dari kisah datangnya Jibril ‘alaihis salam. Semoga menambah ilmu dan meningkatkan keimanan kita.

Wallahu a‘lam bish shawab. Wa shallallahu ‘alaa Nabiyyinaa Muhammad.

Penyusun : dr. Adika Mianoki
Artikel: Muslim.or.id

Sumber bacaan:
– Al-Minhatu Ar-Rabaniyyah fii Syarhi al Arba’in an Nawawiyyah karya Syaikh Dr. Fauzan bin ‘Abdillah Al Fauzan hafidzahullah.
– Syarhu Al-Arba’in An-Nawawiyyah karya Syaikh Shalih bin ‘Abdil ‘Aziiz ‘Muhammad ‘Alu Syaikh hafidzahullah.
– Syarhu Hadiitsi Jibril fii Ta’liimiddiin karya Syaikh ‘Abdul Muhsin bin Hamd al ‘Abbaad al Badr hafidzahullah.

🔍 Seseorang Tergantung Agama Temannya, Walidain, Hukum Berjabat Tangan, Arti Berhijab, Dajjal Dalam Islam


Artikel asli: https://muslim.or.id/29905-10-pelajaran-dari-datangnya-jibril.html